Dari Canting ke Rekening: Bagaimana UMKM Batik Bengkulu `Cuan` Sekaligus Lestarikan Aksara Kuno

Dari Canting ke Rekening: Bagaimana UMKM Batik Bengkulu `Cuan` Sekaligus Lestarikan Aksara Kuno

Rejang Lebong, ayoGELUMBANG || 01 Mei 2026

Di tengah gempuran produk tekstil pabrikan, sebuah langkah berani diambil oleh ChaCha Mentari Batik. UMKM asal Bengkulu ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga warisan masa lalu, tapi juga bisa menjadi mesin penggerak ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat lokal.


Strategi 'Budaya Jadi Cuan'

Alih-alih hanya menjual kain bermotif bunga biasa, ChaCha Mentari mengangkat Aksara Kaganga—tulisan kuno masyarakat Rejang yang hampir punah—sebagai nilai jual utama (USP). Dengan menjadikan aksara ini sebagai elemen visual primer, mereka menciptakan produk yang memiliki segmentasi pasar eksklusif: kolektor, pecinta budaya, dan wisatawan.

"Memakai batik ini bukan cuma soal gaya, tapi soal memakai identitas. Nilai historis inilah yang membuat konsumen rela membayar lebih," ungkap salah satu pengamat UMKM lokal.

Pemberdayaan: Ibu Rumah Tangga Jadi Tulang Punggung Ekonomi

Dampak nyata dari bisnis ini terasa hingga ke dapur-dapur warga. ChaCha Mentari tidak bekerja sendiri; mereka membangun ekosistem produksi yang melibatkan:

  • Ibu Rumah Tangga: Diberdayakan untuk membatik dengan teknik tulis (canting) di sela-sela waktu luang, memberikan mereka akses langsung ke pendapatan tambahan.

  • Generasi Muda: Dilibatkan dalam proses desain dan pemasaran digital, sehingga keahlian tradisional bertemu dengan strategi modern.

Inovasi Warna Tanpa Meninggalkan Tradisi

Meskipun fokus pada profit dan efisiensi ekonomi, mereka tidak "main potong kompas". Teknik batik tetap dipertahankan menggunakan malam dan canting. Inovasi justru dilakukan pada pemilihan palet warna yang lebih soft dan modern, sehingga batik Kaganga tidak lagi terlihat kaku dan bisa dipakai untuk kebutuhan kerja sehari-hari (kantoran) maupun acara santai.

Efek Domino bagi Pariwisata Bengkulu

Keberhasilan ChaCha Mentari Batik secara tidak langsung ikut mendongkrak citra pariwisata daerah. Setiap helai kain yang terjual ke luar daerah membawa narasi tentang kekayaan alam Bengkulu—mulai dari motif Rafflesia hingga komoditas kopi dan cengkeh.

ChaCha Mentari Batik menjadi potret nyata bahwa UMKM memiliki peran vital. Mereka menunjukkan bahwa aksara kuno tidak harus berakhir berdebu di museum, tetapi bisa hidup kembali di ujung canting, mengalirkan rezeki bagi para pengrajin, dan memperkuat jati diri ekonomi bangsa.